Jumat, Desember 07, 2012

INILAH ABU HAZIM AL-A'RAJ (SALAMAH BIN DINAR) 1



Pada tahun 97 H khalifah muslimin, Sulaiman bin Abdul Malik menempuh perjalanan perjalan ke negeri yang disucikan, memenuhi undangan bapak para Nabi, yakni Ibrahim -‘alaihissalaam-. Iringan-iringan itu bergerak dengan cepat dari Damaskus, ibu kota kekhalifahan Umaiyah, menuju Madinah Al-Munawarah.

Ada rasa rindu pada diri khalifah di raudhah nabawi yang suci dan rindu untuk mengucapkan salam atas Muhammad Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam-. Rombongan tersebut disertai para ahli qurro’ (ahli Al-Quran), muhadditsin (ahli hadist), fuqaha (ahli fikih), ulama, umara’, dan para perwira.

Setibanya khalifah di Madinah dan menurunkan perbekalan, orang-orang dan para pemuka Madinah menghampiri mereka untuk mengucapkan salam dan menyambut kedatangan khalifah.

Akan tetapi Salamah bin Dinar sebagai qadhi dan imam kota yang terpercaya, ternyata tidak termasuk kedalam rombongan manusia turut menyambut dan mengucapkan selamat kepada khalifah.

Setelah selesai melayani orang-orang yang menyambutnya, Sulaiman bin Abdul Malik berkata kepada orang-orang yang dekat dengannya: “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang mengingatkan dan membersihkan karatnya.”

Mereka berkata          : “Benar wahai amirul mukminin.”

Lalu beliau berkata: “Tidak adakah di Madinah ini seseorang yang bisa menasehati kita, seseorang yang pernah berjumpa dengan sahabat Rosulullah?”

Mereka menjawab: “Ada wahai amirul mukminin, di sini ada Abu Hazim Al-A’raj.”

Beliu bertanya: “Siapa itu Abu Hazim?”

Mereka menjawab: “Dialah Salamah bin Dinar, seorang alim, cendikia dan Imam di kota Madinah. Beliau termasuk salah satu tabi’in yang pernah bersahabat baik dengan beberapa sahabat utama.”

Khalifah berkata: “Panggilah beliau kemari, namun berlakulah sopan kepada beliau.”
Para pembantu dekat khalifahpun pergi memanggil Salamah bin Dinar.
Setelah Abu Hazim datang, khalifah menyambut dan membawanya ketempat pertemuaannya.

Khalifah           : “Mengapa anda demikian angkuhnya terhadapku, wahai Abu Hazim?”

Abu Hazim      : “Angkuh yang bagaimana yang anda maksud dan anda lihat dari saya wahai amirul mukminin?”

Khalifah           : “Semua tokoh madinah datang menyambutku, sedangkan anda tidak menampakkan diri sama sekali.”

Abu Hazim      : “Dikatakan angkuh itu adalah setelah perkenalan, sedangkan anda belum mengenal saya dan sayapun belum pernah melihat anda. Maka keangkuhan mana yang telah saya lakukan?”

Khalifah           : “Benar alasan syaikh dan khalifah telah salah sangka. Dalam benakku banyak masalah penting yang ingin aku utarakan kepada anda wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim      : “Katakanlah wahai amirul mukminin, Allah tempat memohon pertolongan.”

Khalifah           : “Wahai Abu Hazim mengapa kita membenci kematian?”

Bersambung . . . . . . . .

 ----------------------------------------------------------------------------------------------
 Mereka Adalah Para Tabi'in, Kisah-kisah Paling Menakjubkan yang Belum Tertandingi Hingga Hari Ini. DR. Abdurrahman Ra'fat Basya.

Tidak ada komentar: